Dear Ayah,
Ini pertama kalinya aku menulis surat khusus untuk mu. Biasanya aku selalu menyampaikan apa yang aku rasakan langsung ke Ayah di rumah. Tapi waktu kita ketemu sekarang jarang sekali, Saat aku bangun jam setengah 5 subuh, ayah sudah berangkat ke Mushola untuk sholat berjamaah. Dan Ayah pulang jam 6 saat aku sedang sarapan dan siap berangkat bekerja. Aku hanya sempat berpamitan dan mencium tangan Ayah. Ini pun kalo Ayah duduk di ruang tamu, kalo Ayah di kamar aku hanya sempat berpamitan dengan salam.
Dan saat pulang kerja pun kita jarang ketemu, sudah 4 bulan terakhir ayah sering pulang malam atau saat kita ketemu ba`da magrib di rumah, hampir setiap saat ada telefon dari anak buah atau mekanik di pabrik dan tak jarang Ayah harus pergi lagi ke pabrik dan pulang hampir pagi padahal jam 7.30 Ayah harus berangkat bekerja lagi seperti biasanya. Ayah tau, ingin rasanya aku mencabut telefon rumah dan menonaktifkan HP Ayah dan menyembunyikanya sampai besok supaya Ayah bisa istirahat dan bisa punya waktu untuk aku.
Hari Minggu dan hari libur nasional pun Ayah ke pabrik. Ya walau akhirnya sekarang sabtu minggu pun aku ga pernah ada di rumah, sesuai keinginan aku mengambil kelas brevet pajak untuk mendampingi ijazah S1 ku. Dan mulai merencanakan melanjutkan S2 setelah ini, seperti yang sudah pernah aku sampaikan ke Ayah waktu kita diskusi di Bandar Jakarta beberapa bulan silam.
Ayah umur ku 23 sekarang, banyak yang belum bisa dibanggakan dari ku untuk mengobati kekecewaan yang dulu pernah aku ukir di masa lalu. Tapi suatu hari aku akan membuat Ayah bangga terhadap ku. Aku mengerti kenapa Ayah mendidik 3 purti Ayah termasuk aku dengan gaya militer, walau dari ketiga putri Ayah aku yang paling telat sadarnya karena ga suka diatur dan ga suka dikekang. Maaf ya Ayah...
Ayah aku ga tega diumur yang seharusnya kini Ayah sudah menikmati masa tua, Ayah masih produktif ngurus perusahaan. Ya walau Ayah bilang ke aku klo harusnya aku lebih ga tega klo ngeliat Ayah cuma ongkang-ongkang kaki dirumah, karena tingkat stress seseorang lebih tinggi saat dia tidak produktif lagi. Kata-kata itu aku ingat sampai sekarang dan aku makin membanggakan mu sebagai seorang pekerja keras, bertanggung jawab penuh terhadap profesi dan mendedikasikan secara profesional sebagai seorang pemimpin yang bijaksana. Ayah ada di urutan nomor 1 untuk panutan ku di bidang karir walau kita berbeda bidang.
Ayah saat aku kecil, aku melihat mu sebagai seorang pria yang serius, jarang tertawa dan semuanya penuh dengan aturan. Aku pusing selalu kena hukuman walau bukan dalam bentuk pukulan kecuali saat aku berbohong tapi dengan hukuman lain seperti aku tidak diajak bicara 2 hari atau aku uang jajan ku dipotong saat nilau ujian ku buruk. Tapi kini aku mengerti Ayah membangun mental ku menjadi seorang yang Jujur, bisa mengakui dan menerima kesalahan juga tidak takut menerima resiko dan mampu meperhitungkan resiko. Ayah ada diurutan nomor 1 untuk panutan Kepribadian ku walau aku sempat menyesal terus terusan membangkang semua aturan mu dulu.
Kini Ayah melunak saat aku dewasa dan Ayah Multi peran sebagai orang tua, partner kerja, penasehat ,sahabat bahkan pacar disaat aku jomblo. (Ya walau saat aku punya pacar pun Ayah lebih protektif ketibang si pacar ya yah??). Ayah berusaha open mind untuk putri-putri Ayah walau jelas-jelas kita sangat berbeda generasi dan Ayah orang yang idealis. Ga jarang terjadi salah paham dan perselisihan tapi saat putri-putri Ayah bisa mencapai sebuah prestasi Ayah pasti mensuport hal yang tadinya jadi perselisihan antara kita.
Ayah entah bagaimana aku mengungkapkan kekagumanku kepada mu. Tapi dalam Mind set ku saat ini dan seterusnya Ayah adalah Idola nomor 1 ku dalam bidang apapun. Kalaupun suatu hari nanti aku menikah dan berkeluarga Ayah tetap sahabat dan pacar nomor 1 ku selamanya.
Ayah jaga kesehatan ya ? Aku akan selalu menyebut mu dalam doa-doa ku agar Allah terus menjaga mu dan memberkati setiap langkah mu dalam hidup ini.
Terimakasih Ayah telah menjadi orang tua, pemimpin, penasehat, partner, sahabat, pacar dan guru yang sangat baik untuk ku.
With Love,
Putri mu
Mita
Mita
My Dad is My Number 1 Man


0 komentar:
Poskan Komentar